Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa terlepas dari ilmu dan pengetahuan. Di sisi lain, agama diperlukan untuk mengisi dimensi spiritualitas, memberikan ketenangan, menjanjikan keselamatan, serta tuntunan bagi manusia dalam menemukan jalan hidupnya. Segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh manusia, selalu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan serta meraih keselamatan. Upaya pemenuhan kebutuhan tersebut, biasanya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Pertumbuhan ilmu dan pengetahuan manusia berlangsung dari masalah yang ditemukan sertai upaya menyelesaikannya. Upaya-upaya tersebut melibatkan perumusan teori yang harus lebih maju dari pada pengetahuan yang sudah ada, sehingga diperlukan lompatan imajinasi. Sepanjang sejarah manusia, pembicaraan mengenai sains dan agama tidak pernah berhenti. Agama dan sains merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Sains dan agama merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kebudayaan dan peradaban manusia. Dalam catatan sejarah, perjumpaan agama dengan sains serta budaya tidak hanya pertentangan belaka, tetapi ilmuan berusaha untuk mencari hubungan antara keduanya, yaitu sains tidak mengarahkan agama kepada jalan yang dikehendakinya dan agama tidak memaksanakan sains untuk tunduk pada kehendaknya.
Wacana ilmu
dan agama selalu menarik perhatian di kalangan intelektual. Dewasa ini, masih
saja ada anggapan kuat dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa “agama” dan “ilmu”
adalah dua entitas yang tidak dapat dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayah
masing-masing, terpisah antara satu dan lainnya, baik dari segi objek formal material,
metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan. Dengan
ungkapan lain, ilmu tidak memperdulikan agama dan agama pun tidak memperdulikan
ilmu. Banyak pemikir sangat yakin dan bersemangat mengatakan bahwa agama tidak
akan pernah dapat didamaikan dengan sains. Menurut mereka, apabila Saudara seorang
ilmuwan, sulit membanyangkan bagaimana secara jujur dapat serentak “saleh-beriman”,
jelas-jelas “tidak dapat membuktikan” kebenaran ajaran-ajarannya dengan tegas,
sedangkan sains dapat melakukan hal itu, yaitu dapat membuktikan kebenaran
temuannya.
Persoalan
yang muncul sekarang adalah bagaimana memadukan sains dan agama serta budaya
yang melekat padanya. Perpaduan apa seperti apa yang dapat dilakukan? Dalam
wacana sains dan agama, intergrasi dalam artian generiknya sebagai upaya
memadukan sains dan agama. Wacana apa yang disebutnya integrasi yang valid,
tetapi pada kesempatan lain mengkritik integrasi yang naif. Agama mencoba
bersikap diam-diam dan tidak mau memberi pentunjuk konkret tentang kebenaran
Tuhan. Sementara dipihak lain, sains mau menguji semua hipotesis dan semua
teorinya berdasarkan pengalaman. Menurut kelompok saintis, agama tidak dapat
melakukan hal tersebut dengan memuaskan pihak yang nertal. Untuk itu, perlu
mencari pola interaksi antara sains dan agama. Pola interaksi dialogis, artinya
sains tidak mengarahkan agama kepada jalan yang dikehendakinya, serta agama pun
tidak memaksanakan sains untuk tunduk pada kehendaknya. Agama harus membantu
sains dengan memberikan perspektif yang berbeda. Begitu pula sains harus
membantu agama untuk melihat kehidupan yang berbasiskan pengalaman empiris. Berdasarkan
uraian ini, penulis berupaya mengekplorasi discourse
ini secara sederhana, untuk menjawab persoalan-persoalan apakah agama
bertentangan dengan sains, mungkinkankah integrasi antara sains dan agama,
sains dan agama persepektif Islam, serta sains, agama dalam lintas budaya
kemanusiaan.
Discourse
Kontroversi Agama dan Sains
Sains
dan agama bukanlah isu baru, banyak pemikir yakin bahwa agama tidak akan pernah
dapat didamaikan dengan sains. Pertarungan antarsains dan agama seolah-olah tak
pernah berhenti. Katakan saja, di satu pihak ada kelompok sainties tidak pernah
dianggap sebagai intelektual, tetapi kerjanya berpijak pada dunia empiris,
secara nyata telah mengubah dunia seperti yang disaksikan sekarang ini.
Sementara di sisi lain, para agamawan (baca: para teolog) dikategori sebagai
kelompok tradisional, mengklaim dan menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak
berbicara tentang kebenaran. Kedua kelompok tersebut seolah-olah tak pernah
berhenti untuk saling klaim mengklaim kebenaran bahwa merekalah yang berhak
menentukan kehidupan.
Agama
dan sains merupakan dua entitas penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Pertentangan
antar keduanya sebenarnya tidak perlu terjadi, jika mau belajar mempertemukan
ide-ide spiritualitas (baca: agama) dengan sains yang sebenarnya sudah
berlangsung lama. Pihak skeptis, selalu menuduh bahwa agama hanya bergantung
pada asumsi-asumsi apriori atau sesuatu yang hanya didasarkan pada keyakinan.
Selain itu, kelompok sainsties, tidak dapat menerima begitu saja segala sesuatu
sebagai kebenaran. Para teolog banyak menuai kritik, karena terlalu bertumpu
pada imajinasi liar, sementara para scientist harus berdasarkan fakta empiris. Discourse ini tentu menjadi tantangan
yang harus dihadapi. Apabila pemahaman yang kurang tepat mengenai persoalan ini,
dapat menjebak umat beragama pada upaya yang tidak produktif bahkan kontra produktif.
Selain
itu, beberapa kritik menunjukkan bahwa hubungan sains dengan agama terlalu
kompleks dan terlalu bebas konteks untuk dihimpun di bawah skema klasifikasi.
Mereka mengklaim bahwa interaksi antara keduanya sangatlah beragam di sepanjang
periode sejarah dan disiplin ilmu. Kaum materialisme dan literalisme biblikal
sama-sama mengklaim bahwa sains dan agama memberikan pertanyaan yang berlawanan
dalam domain yang sama, sehingga orang harus memilih satu di antara dua. Mereka
percaya, orang tidak dapat mempercayai evolusi dan Tuhan sekaligus.
Memang
perkembangan selama ini, menunjukkan bahwa sains didominasi oleh aliran
positivisme, sebuah aliran yang sangat menuhankan (baca: menjadikan tuhan) metode
ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi metafisis, aksiologis dan
epistemologis. Penganut aliran ini, mengatakan bahwa sains mempunyai reputasi
tinggi untuk menentukan kebenaran dan sains merupakan “dewa” dalam beragam
tindakan sosial. Menurut mereka (para postifistik), agama hanyalah merupakan
hiasan belaka ketika tidak sesuai dengan sains. Dengan demikian, upaya untuk
menghubungan dan memadukan antara sains dan agama, tidak harus berarti
menyatukan atau bahkan mencapuradukkan, karena identitas atau watak dari
masing-masing keduanya, tidak mesti hilang, harus tetap dipertahankan. Jika
tidak, mungkin saja yang diperoleh dari hasil hubungan itu “bukan ini dan bukan
itu”, dan tidak jelas lagi apa fungsi dan manfaatnya. Integrasi yang diinginkan
adalah integrasi yang “konstruktif”, hal ini dapat dimaknai sebagai suatu upaya
integrasi yang menghasilkan konstribusi baru yang dapat diperoleh jika keduanya
terpisahkan.
Ian G.
Barbour menjelaskan hubungan agama dan sains menjadi empat tipologi, yaitu
konflik (conflict], perpisahan (independence), dialog-perbincangan (dialogue), dan integrasi-perpaduan (integration). Lebih lanjtu Ian G.
Barbour menjelaskan, pententangan antara sains dan agama merupakan hubungan
yang bertelingkah (conflicting) dan
dalam kasus yang ekstrim barangkai bermusuhan (hostile). Perpisahan berarti ilmu dan agama berjalan
sendiri-sendiri dengan bidang garapan, cara, dan tujuannya masing-masing, tanpa
saling mengganggu atau memperdulikan. Sementara tipologi dialog dalam
pemahamnnya, adanya hubungan terbuka dan saling menghormati, karena kedua belah
pihak ingin memahami persamaan dan perbedaan mereka. Perpaduan atau integrasi
adalah hubungan yang bertumpu pada keyakinan bahwa pada dasarnya kawasan
telaah, rancangan penghampiran, dan tujuan ilmu dan agama adalah sama dan satu.
Perpaduan
menurut Barbour, dapat diusahakan dengan bertolak dari sisi ilmu (Natural Theology), atau dari sisi agama (Teology of Nature). Alternatifnya
berupaya untuk menyatukan keduanya dalam satu bingkai yang disebutnya dengan “sistem
kefilsafatan”. Tampakknya, Barbour sendiri secara pribadi cenderung mendukung
usaha penyatuan melalui nilai Theology of
Nature yang digabungkan dengan
penggunaan Process Philoshofy secara
berhati-hati. Selain itu, Barbour, sepakat dengan pendekatan dialog atau
perbincangan. Tetapi tidak jelas, apakah dukungannya terhadap perpaduan atau
integrasi lebih kuat, atau apakah pandangannya justru lebih berat pada dialog
atau perbincangan. Pada uraian berikutnya akan diperjelas lagi
persinggungan tersebut.
Hubungan
Sains & Agama Persepektif Islam
Dalam
pandangan Islam, sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama. Tujuan pengetahuan
yang diwahyukan maupun pengetahuan yang diupayakan adalah mengungkapkan
ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Kita dapat
mempertimbangkan kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan
catatan memiliki metodologi dan bahasanya sendiri. Para sarjana Muslim, menekankan
bahwa motivasi dibalik upaya pencarian ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu
matematis adalah upaya untuk mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta. Dalam
pandangan mereka, tiap-tiap bidang ilmu menunjukkan satu dimensi ciptaan Tuhan,
dan ilmu-ilmu tersebut memiliki kesatuan organis. Dengan demikian, para sarjana
Muslim tidak memisahkan kajian tentang alam dari pandangan dunia mereka yang
religius.
Inkonsistensi
yang dituduhkan kepada sains dan agama, karena diabaikannya keterbatasan sains
oleh sebagaian ilmuwan, atau karena campur tangan yang tidak semestinya dari
para otoritas agamawan dalam persoalan saintifik. Menurut Golshani, di dunia
Barat, beberapa ilmuwan terkenal memandang kegiatan ilmiah sebagai bagian dari
pengalaman beragama. Charles Townes pemenang hadiah Nobel di bidang fisika, seperti
dikutip Barbour, mengatakan bahwa “Saya sendiri tidak membedakan antara sains
dan agama, tetapi memandang penjelajahan alam semesta sebagai bagian dari
pengalaman religius”. Al-Qur’an, memperingatkan umat manusia bahwa kajian
tentang alam hanya dapat membawa manusia dari penciptaan kepada Sang Pencipta,
jika manusia memiliki modal iman kepada Tuhan, firman Allah: “Katakanlah, perhatikanlah
apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah
dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS.
Yunus: 10; 101).
Dengan
dasar ini, jika seorang ilmuwan mendekati alam dengan iman kepada Tuhan,
imannya akan diperkuat oleh kegiatan dan temuan-temuan ilmiahnya. Jika tidak
demikian, maka kajian tentang alam tidak dengan sendirinya akan membawanya
kepada Tuhan. Adalah Mehdi Golshani, mengatakan kegiatan ilmiah yang selalu
disertai dengan praanggapan metafisik dari si ilmuwan meskipun Dia mungkin
tidak menyadarinya. Keajaiban alam hanya dapat membawa orang kepada Tuhan, jika
kerangka kerja metafisiknya bersesuaian. Di lain pihak, keyakinan religius
dapat memberikan motivasi, baik bagi kerja ilmiah. Al-Biruni, ilmuan Muslim
termasyhur, mengaitkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan
Ilahi dalam penciptaan dan menyimpulkan adanya Sang Pencipta. Terlepas dari
sejumlah kecil penyelidikan yang diilhami oleh gagasan-gagasan filsafat Yunani,
tetapi ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terlibat serius dalam pencarian sains.
Dengan demikian, menurut Golshani, keyakinan agama dapat memberikan motivasi
positif bagi kerja ilmiah. Kemudian efek lain yang dapat ditimbulkan di wilayah
penerapan sains itu sendiri. Untuk itu, agama dapat berfungsi untuk
mengorientasikan sains pada arah penguatan kapasitas-kapasitas spritual manusia
dan dalam mencegah penggunaan sains bagi tujuan-tujuan yang bersifat negatif. Kata
Golshani, kalau pun ada yang terkait dengan “Islamisasi”, maka itu berarti
upaya memberikan makna keagamaan seperti pada sains. Maka kerja ilmiah dapat
dilakukan dan dikembangkan dalam konteks keagamaan (teistik) maupun
nonkeagamaan.
Sejumlah
nama muncul dalam pembicaraan Islamisasi ilmu pengetahuan, di antaranya: Syed
M. Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nossein Nasr, Isma’il al-Faruqi, dan
Ziauddin Sardar. Al-Attas, dengan gagasan awalnya menyebut sebagai “Dewesternisasi
ilmu”, Isma’il al-Faruqi berbicara tentang “Islamisasi Ilmu”, sedangkan Sardara
berbicara tentang penciptaan suatu “Sains Islam kontemporer”. Kesemuanya
bergerak terutama pada tingkat epistemologi dan sedikit metafisika, kecuali
al-Attas, yang lebih masuk ke dalam wilayah metafisika. Dalam spektrum
pandangan mengenai Islam dan sains, pemikir besar seperti Fazlur Rahman, tidak menyepakati
gagasan “Islamisasi Ilmu”. Pandangan Rahman didasari oleh keyakinan bahwa ilmu,
kurang lebih, bebas nilai. Hemat Rahman, ketidaksetujuan tersebut tampaknya
disebabkan oleh ketidakmampuan agamawan menyajikan suatu sistem etika yang
dapat menjawab persoalan-persoalan baru yang diakibatkan kemajuan ilmiah.



0 comments:
Post a Comment