Ads 468x60px

Friday, July 11, 2014

Upaya Integrasi Sains, Agama dalam Lintas Budaya


Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa terlepas dari ilmu dan pengetahuan. Di sisi lain, agama diperlukan untuk mengisi dimensi spiritualitas, memberikan ketenangan, menjanjikan keselamatan, serta tuntunan bagi manusia dalam menemukan jalan hidupnya. Segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh manusia, selalu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan serta meraih keselamatan. Upaya pemenuhan kebutuhan tersebut, biasanya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Pertumbuhan ilmu dan pengetahuan manusia berlangsung dari masalah yang ditemukan sertai upaya menyelesaikannya. Upaya-upaya tersebut melibatkan perumusan teori yang harus lebih maju dari pada pengetahuan yang sudah ada, sehingga diperlukan lompatan imajinasi. Sepanjang sejarah manusia, pembicaraan mengenai sains dan agama tidak pernah berhenti. Agama dan sains merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Sains dan agama merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kebudayaan dan peradaban manusia. Dalam catatan sejarah, perjumpaan agama dengan sains serta budaya tidak hanya pertentangan belaka, tetapi ilmuan berusaha untuk mencari hubungan antara keduanya, yaitu sains tidak mengarahkan agama kepada jalan yang dikehendakinya dan agama tidak memaksanakan sains untuk tunduk pada kehendaknya. 
Wacana ilmu dan agama selalu menarik perhatian di kalangan intelektual. Dewasa ini, masih saja ada anggapan kuat dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa “agama” dan “ilmu” adalah dua entitas yang tidak dapat dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayah masing-masing, terpisah antara satu dan lainnya, baik dari segi objek formal material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan. Dengan ungkapan lain, ilmu tidak memperdulikan agama dan agama pun tidak memperdulikan ilmu. Banyak pemikir sangat yakin dan bersemangat mengatakan bahwa agama tidak akan pernah dapat didamaikan dengan sains. Menurut mereka, apabila Saudara seorang ilmuwan, sulit membanyangkan bagaimana secara jujur dapat serentak “saleh-beriman”, jelas-jelas “tidak dapat membuktikan” kebenaran ajaran-ajarannya dengan tegas, sedangkan sains dapat melakukan hal itu, yaitu dapat membuktikan kebenaran temuannya.
Persoalan yang muncul sekarang adalah bagaimana memadukan sains dan agama serta budaya yang melekat padanya. Perpaduan apa seperti apa yang dapat dilakukan? Dalam wacana sains dan agama, intergrasi dalam artian generiknya sebagai upaya memadukan sains dan agama. Wacana apa yang disebutnya integrasi yang valid, tetapi pada kesempatan lain mengkritik integrasi yang naif. Agama mencoba bersikap diam-diam dan tidak mau memberi pentunjuk konkret tentang kebenaran Tuhan. Sementara dipihak lain, sains mau menguji semua hipotesis dan semua teorinya berdasarkan pengalaman. Menurut kelompok saintis, agama tidak dapat melakukan hal tersebut dengan memuaskan pihak yang nertal. Untuk itu, perlu mencari pola interaksi antara sains dan agama. Pola interaksi dialogis, artinya sains tidak mengarahkan agama kepada jalan yang dikehendakinya, serta agama pun tidak memaksanakan sains untuk tunduk pada kehendaknya. Agama harus membantu sains dengan memberikan perspektif yang berbeda. Begitu pula sains harus membantu agama untuk melihat kehidupan yang berbasiskan pengalaman empiris. Berdasarkan uraian ini, penulis berupaya mengekplorasi discourse ini secara sederhana, untuk menjawab persoalan-persoalan apakah agama bertentangan dengan sains, mungkinkankah integrasi antara sains dan agama, sains dan agama persepektif Islam, serta sains, agama dalam lintas budaya kemanusiaan.

Discourse Kontroversi Agama dan Sains
Sains dan agama bukanlah isu baru, banyak pemikir yakin bahwa agama tidak akan pernah dapat didamaikan dengan sains. Pertarungan antarsains dan agama seolah-olah tak pernah berhenti. Katakan saja, di satu pihak ada kelompok sainties tidak pernah dianggap sebagai intelektual, tetapi kerjanya berpijak pada dunia empiris, secara nyata telah mengubah dunia seperti yang disaksikan sekarang ini. Sementara di sisi lain, para agamawan (baca: para teolog) dikategori sebagai kelompok tradisional, mengklaim dan menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara tentang kebenaran. Kedua kelompok tersebut seolah-olah tak pernah berhenti untuk saling klaim mengklaim kebenaran bahwa merekalah yang berhak menentukan kehidupan.
Agama dan sains merupakan dua entitas penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Pertentangan antar keduanya sebenarnya tidak perlu terjadi, jika mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas (baca: agama) dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Pihak skeptis, selalu menuduh bahwa agama hanya bergantung pada asumsi-asumsi apriori atau sesuatu yang hanya didasarkan pada keyakinan. Selain itu, kelompok sainsties, tidak dapat menerima begitu saja segala sesuatu sebagai kebenaran. Para teolog banyak menuai kritik, karena terlalu bertumpu pada imajinasi liar, sementara para scientist harus berdasarkan fakta empiris. Discourse ini tentu menjadi tantangan yang harus dihadapi. Apabila pemahaman yang kurang tepat mengenai persoalan ini, dapat menjebak umat beragama pada upaya yang tidak produktif bahkan kontra produktif.
Selain itu, beberapa kritik menunjukkan bahwa hubungan sains dengan agama terlalu kompleks dan terlalu bebas konteks untuk dihimpun di bawah skema klasifikasi. Mereka mengklaim bahwa interaksi antara keduanya sangatlah beragam di sepanjang periode sejarah dan disiplin ilmu. Kaum materialisme dan literalisme biblikal sama-sama mengklaim bahwa sains dan agama memberikan pertanyaan yang berlawanan dalam domain yang sama, sehingga orang harus memilih satu di antara dua. Mereka percaya, orang tidak dapat mempercayai evolusi dan Tuhan sekaligus.
Memang perkembangan selama ini, menunjukkan bahwa sains didominasi oleh aliran positivisme, sebuah aliran yang sangat menuhankan (baca: menjadikan tuhan) metode ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi metafisis, aksiologis dan epistemologis. Penganut aliran ini, mengatakan bahwa sains mempunyai reputasi tinggi untuk menentukan kebenaran dan sains merupakan “dewa” dalam beragam tindakan sosial. Menurut mereka (para postifistik), agama hanyalah merupakan hiasan belaka ketika tidak sesuai dengan sains. Dengan demikian, upaya untuk menghubungan dan memadukan antara sains dan agama, tidak harus berarti menyatukan atau bahkan mencapuradukkan, karena identitas atau watak dari masing-masing keduanya, tidak mesti hilang, harus tetap dipertahankan. Jika tidak, mungkin saja yang diperoleh dari hasil hubungan itu “bukan ini dan bukan itu”, dan tidak jelas lagi apa fungsi dan manfaatnya. Integrasi yang diinginkan adalah integrasi yang “konstruktif”, hal ini dapat dimaknai sebagai suatu upaya integrasi yang menghasilkan konstribusi baru yang dapat diperoleh jika keduanya terpisahkan.
Ian G. Barbour menjelaskan hubungan agama dan sains menjadi empat tipologi, yaitu konflik (conflict], perpisahan (independence), dialog-perbincangan (dialogue), dan integrasi-perpaduan (integration). Lebih lanjtu Ian G. Barbour menjelaskan, pententangan antara sains dan agama merupakan hubungan yang bertelingkah (conflicting) dan dalam kasus yang ekstrim barangkai bermusuhan (hostile). Perpisahan berarti ilmu dan agama berjalan sendiri-sendiri dengan bidang garapan, cara, dan tujuannya masing-masing, tanpa saling mengganggu atau memperdulikan. Sementara tipologi dialog dalam pemahamnnya, adanya hubungan terbuka dan saling menghormati, karena kedua belah pihak ingin memahami persamaan dan perbedaan mereka. Perpaduan atau integrasi adalah hubungan yang bertumpu pada keyakinan bahwa pada dasarnya kawasan telaah, rancangan penghampiran, dan tujuan ilmu dan agama adalah sama dan satu.
Perpaduan menurut Barbour, dapat diusahakan dengan bertolak dari sisi ilmu (Natural Theology), atau dari sisi agama (Teology of Nature). Alternatifnya berupaya untuk menyatukan keduanya dalam satu bingkai yang disebutnya dengan “sistem kefilsafatan”. Tampakknya, Barbour sendiri secara pribadi cenderung mendukung usaha penyatuan melalui nilai Theology of Nature  yang digabungkan dengan penggunaan Process Philoshofy secara berhati-hati. Selain itu, Barbour, sepakat dengan pendekatan dialog atau perbincangan. Tetapi tidak jelas, apakah dukungannya terhadap perpaduan atau integrasi lebih kuat, atau apakah pandangannya justru lebih berat pada dialog atau perbincangan.  Pada uraian berikutnya akan diperjelas lagi persinggungan tersebut.

Hubungan Sains & Agama Persepektif Islam
Dalam pandangan Islam, sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama. Tujuan pengetahuan yang diwahyukan maupun pengetahuan yang diupayakan adalah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Kita dapat mempertimbangkan kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan memiliki metodologi dan bahasanya sendiri. Para sarjana Muslim, menekankan bahwa motivasi dibalik upaya pencarian ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu matematis adalah upaya untuk mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta. Dalam pandangan mereka, tiap-tiap bidang ilmu menunjukkan satu dimensi ciptaan Tuhan, dan ilmu-ilmu tersebut memiliki kesatuan organis. Dengan demikian, para sarjana Muslim tidak memisahkan kajian tentang alam dari pandangan dunia mereka yang religius.
Inkonsistensi yang dituduhkan kepada sains dan agama, karena diabaikannya keterbatasan sains oleh sebagaian ilmuwan, atau karena campur tangan yang tidak semestinya dari para otoritas agamawan dalam persoalan saintifik. Menurut Golshani, di dunia Barat, beberapa ilmuwan terkenal memandang kegiatan ilmiah sebagai bagian dari pengalaman beragama. Charles Townes pemenang hadiah Nobel di bidang fisika, seperti dikutip Barbour, mengatakan bahwa “Saya sendiri tidak membedakan antara sains dan agama, tetapi memandang penjelajahan alam semesta sebagai bagian dari pengalaman religius”. Al-Qur’an, memperingatkan umat manusia bahwa kajian tentang alam hanya dapat membawa manusia dari penciptaan kepada Sang Pencipta, jika manusia memiliki modal iman kepada Tuhan, firman Allah: “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus: 10; 101).
Dengan dasar ini, jika seorang ilmuwan mendekati alam dengan iman kepada Tuhan, imannya akan diperkuat oleh kegiatan dan temuan-temuan ilmiahnya. Jika tidak demikian, maka kajian tentang alam tidak dengan sendirinya akan membawanya kepada Tuhan. Adalah Mehdi Golshani, mengatakan kegiatan ilmiah yang selalu disertai dengan praanggapan metafisik dari si ilmuwan meskipun Dia mungkin tidak menyadarinya. Keajaiban alam hanya dapat membawa orang kepada Tuhan, jika kerangka kerja metafisiknya bersesuaian. Di lain pihak, keyakinan religius dapat memberikan motivasi, baik bagi kerja ilmiah. Al-Biruni, ilmuan Muslim termasyhur, mengaitkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Ilahi dalam penciptaan dan menyimpulkan adanya Sang Pencipta. Terlepas dari sejumlah kecil penyelidikan yang diilhami oleh gagasan-gagasan filsafat Yunani, tetapi ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terlibat serius dalam pencarian sains. Dengan demikian, menurut Golshani, keyakinan agama dapat memberikan motivasi positif bagi kerja ilmiah. Kemudian efek lain yang dapat ditimbulkan di wilayah penerapan sains itu sendiri. Untuk itu, agama dapat berfungsi untuk mengorientasikan sains pada arah penguatan kapasitas-kapasitas spritual manusia dan dalam mencegah penggunaan sains bagi tujuan-tujuan yang bersifat negatif. Kata Golshani, kalau pun ada yang terkait dengan “Islamisasi”, maka itu berarti upaya memberikan makna keagamaan seperti pada sains. Maka kerja ilmiah dapat dilakukan dan dikembangkan dalam konteks keagamaan (teistik) maupun nonkeagamaan.
Sejumlah nama muncul dalam pembicaraan Islamisasi ilmu pengetahuan, di antaranya: Syed M. Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nossein Nasr, Isma’il al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar. Al-Attas, dengan gagasan awalnya menyebut sebagai “Dewesternisasi ilmu”, Isma’il al-Faruqi berbicara tentang “Islamisasi Ilmu”, sedangkan Sardara berbicara tentang penciptaan suatu “Sains Islam kontemporer”. Kesemuanya bergerak terutama pada tingkat epistemologi dan sedikit metafisika, kecuali al-Attas, yang lebih masuk ke dalam wilayah metafisika. Dalam spektrum pandangan mengenai Islam dan sains, pemikir besar seperti Fazlur Rahman, tidak menyepakati gagasan “Islamisasi Ilmu”. Pandangan Rahman didasari oleh keyakinan bahwa ilmu, kurang lebih, bebas nilai. Hemat Rahman, ketidaksetujuan tersebut tampaknya disebabkan oleh ketidakmampuan agamawan menyajikan suatu sistem etika yang dapat menjawab persoalan-persoalan baru yang diakibatkan kemajuan ilmiah.


0 comments:

Post a Comment